Aku Masih Ada

kesendirian

Hai, bagaimana kabarmu?

Aku sedang duduk di tepi jendela sembari berkelakar kamu sedang apa di tempat yang tidak mampu kujangkau. Namun aku masih mengimani bahwa mungkin saja kamu masih teringat tentang kita.

Kupegang dan kutatap dengan lembut figura sosok dirimu yang tersenyum lebar. Kaca transparan pigura itu memantulkan sinar kemuning. Menyilaukan dan membawaku kembali mengenangmu. Entah, aku tidak tahu apakah kamu masih terlihat sama seperti pada foto yang kini kulihat.

Aku ingat, dahulu, kamu menjelaskan bahwa keindahan alam tidak terbatas. Hutan, gunung, langit, laut, dan tempat-tempat yang diabaikan. Manusialah yang menciptakan batas itu dengan perilaku yang merusak. Katamu, percuma saja manusia menciptakan peraturan jika mental manusia itu sendiri masih gemar merasa tidak berdosa untuk melanggar. Kamu selalu sebal melihat orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai pencinta alam, tetapi masih melakukan kebiasaan buruk seperti membuang sampah sembarangan, meninggalkan eksistensi berupa coretan dan mencabut tumbuhan yang dilarang.

Aku tak dapat menahan ledakan tawa setiap kali melihat wajah sebalmu yang memerah saat menjelaskan hal itu berulang kali, tapi aku tidak pernah bosan mendengarnya. Telingaku tak sabar menunggu tiap desibel suara gurihmu saat kamu hendak berbicara.

Kadang aku ingin menjadi seekor burung yang bisa terbang jauh dan hinggap di dahan pohon hanya untuk melihatmu.

Aku tidak lagi secengeng dulu, saat awal-awal kamu baru saja pergi. Aku sudah kebal dihantam rindu setiap kali teringatmu, terlebih ketika melihat berpasang-pasang manusia memamerkan kemesraannya. Sering muncul keraguan besar tentang pertanyaan-pertanyaan retoris, apakah kau masih mencintaiku?

Namun, berbicara tentang batas, terkadang kita harus realistis, kan? Kita harus melangkah maju untuk melanjutkan kehidupan. Tidak terpaku pada satu titik yang membuat kita selalu menengok ke belakang dan berdiri statis tanpa arah dan tujuan. Kamu harus memahfumi bahwa setiap penantian membutuhkan jawaban atas segala kapan. Sebab kita tidak bisa memesan kepastian kepada waktu. Beberapa hal memang lebih baik tidak terjawab, dan yang tidak terjawab pun kadang adalah sebuah jawaban. Detik selalu berpacu ke depan dan aku tidak ingin berjalan mundur dan tertinggal jauh, lalu terjebak dalam muara kesedihan yang mengorbankan kebahagiaan.

Jadi, aku memutuskan untuk melangkahkan kakiku ke depan. Meninggalkan satu per satu hal yang berkorelasi dengan kita. Menanggalkan kenangan indah dan rencana masa depan yang dahulu kita diskusikan di bawah langit malam, di atas kap mobil sambil menyebut rasi bintang. Kaulah satu-satunya pasangan yang belum pernah sekali pun menyakitiku. Itulah sebabnya Ibuku pun menyayangimu. Aku akan mencintaimu sampai waktu menuntut dan menuntun melupakanmu sampai kegagalan tak lagi berlaku.

Dan bila hari itu tiba, sudah sepantasnya kuucapkan selamat datang mulai dari sekarang. Aku takut tidak sempat mengucapkannya, seperti halnya kamu yang tidak sempat mengucapkan janji untuk kembali.

Ada seseorang telah lama mendobrak pintu hatiku secara paksa dan menyadarkanku bahwa kamu bukanlah lagi seseorang yang sama, yang mencintaiku, atau setidaknya, mengenal siapa aku. Sungguh, aku sangat menyesal seandainya saja dahulu aku berusaha keras mencegahmu untuk pergi, kamu pasti tidak tertimpa musibah pelik yang membuatmu kehilangan kita, ingatanmu dan menjadikanmu seseorang yang lain. Di sisi yang berbeda, aku bersyukur. Mungkin inilah yang memang harus kuterima dengan ikhlas sepenuh jiwa.

Kamu pasti tidak tahu seseorang itu. Namun dialah yang berjasa membuka mata dan menyembuhkan tekanan batin yang memprakarsaiku melawan fakta. Cintaku padamu begitu hebat hingga nyaris merebut kewarasanku. Cintanya kepadaku juga tak kalah kuat, sampai orang-orang yang menyebutku gila pun ikut mengiranya gila. Sebuah kelucuan yang ironis, kan? Begitulah, pada akhirnya, aku dan dia bisa saling mencintai.

Bila suatu hari kita bertemu dan ingatanmu kembali, kumohon jangan ada benci yang membuat kita menjadi asing. Aku ingin kita saling memamerkan senyum bahagia, ya. Aku mau kita sama-sama bertukar cerita tentang pengalaman selama kamu pergi, atau kita jodohkan saja anak kita kelak? Ini bukan ide gila, kan? Aku sudah waras kok.

Sebenarnya aku tidak berharap besar, namun sudikah kiranya kuharap kita menjadi dua orang yang mengakhiri peluk dan cium untuk kisah yang penuh kasih sebagai sahabat. Aku masih menanamkan kepercayaan, walaupun di dalam kepalamu tidak ada secuil pun ingatan tentang aku, tapi di relung hatimu, aku masih ada.

Masih ada.

Ya, masih ada.

Meski dalam ketidakmungkinan.

Jakarta, 20 Oktober 2015. 19.44 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *