Galau Usia 20an

KRISIS IDENTITAS

“Gw nggak tau mau jadi apaan, nih, di usia gw yang udah segini.
Temen-temen gw udah jadi ‘orang’, gw masih gini-gini aja.
I don’t know what should I do with my life, I have no idea how to make my parents proud of me.
Gw sama sekali nggak ada ide masa depan gw akan gimana.”

Pernah nggak menanyakan pertanyaan di atas ke diri sendiri? Pernah krisis identitas? Pernah merasa kayaknya hidup itu stagnan, nggak bergerak ke mana-mana, nggak maju, nggak mundur, tapi stuck. Everything looks bleak, stale, boring. And the worse thing is, you have no idea what to do. Kalo jawabannya iya, worry not, you’re not alone. Buuuuaaanyaaaakkk banget kok anak muda kayak gw (hey, dilarang protes, gw masih muda!​) dan kalian yang galau masa muda dan galau krisis identitas.

Contohnya, gw. Waktu usia 17 sampai 20-an, gw nggak tau harus ngapain. Gw nggak tau harus jalan ke mana. Gw nggak tau ‘passion’ gw itu apa. Bahkan sampai berusia 21, gw nggak tau mau jadi apaan. Kerjaan gw sehari-hari ya main game online di warnet, nongkrong di sevel sambil godain cewek-cewek lucu. Begitu terus setiap hari, bertahun-tahun. Bosen, gak? Buset, dah. Bosen gilak!

Gw bosen gila.

Yang gw tau pasti: nggak mau jadi beban hidup buat orang lain, nggak mau ngerepotin orang, nggak mau jadi tukang minta duit ke keluarga. Jadi, gw terus kerja, sambil nyari, apa ya, kesempatan yang akan datang ke gw?

Kemudian, gw mencoba untuk kerja jadi sales game online disebuah perusahaan di bilangan Jakarta Barat. Mendingan sih. Dari situ gw ada penghasilan bulanan meskipun kecil banget. Tapi jauh di lubuk hati, gw tau, hidup gw bukan untuk dihabiskan jadi sales game online terus-terusan. I knew I didn’t belong there. The thing was, I didn’t know what were ‘the greater things’. I was supposed to do. Galau nggak, gw? Galau gila. Setiap hari selalu ada sebuah gelombang yang pelan-pelan berkumpul dan menghantam ketika malam tiba. Mau jadi apa hidup lo kalo tiap hari elo begini terus? Mau mati bosen melakukan rutinitas yang sama?

Titik balik gw bukan di usia 25, tapi di usia 22an. Suatu malam, mendadak gw terbangun dari tidur gelisah gw, duduk tegak di kasur, dan pikiran ini nongol:

“If I keep worrying about my future, how will I be able to enjoy my present?”

Kalimat ini terus menerus menggaung dan bergema. Ia menjelma menjadi semacam mantra. Terlalu sibuk galau masa depan, gw lupa menikmati masa sekarang. Keesokan harinya, ketika gw pengen berangkat kerja, gw merasa lebih enteng. Akibatnya, gw lebih sering senyum ke calon pelanggan, gw jadi lebih ramah, gw jadi lebih hidup.

Karena pemikiran itu juga lah, gw berhenti mencemaskan masa depan. Susah, nggak? You bet it is! Susah setengah mati!!! Tapi seiring dengan perjalanan waktu, seiring dengan memfokuskan diri di SAAT INI, di DETIK INI, MENIT INI, SEKARANG, pikiran itu berangsur terdorong ke belakang, dan mendekam nyaman tanpa berniat untuk mendobrak keluar.

Mind you, there will be times when you look at your friends who are at your age, and you get this empty feeling and a descending self esteem and feel so worthless because they are more successful, they look happier, they seem enjoy life more than you do. Then you will start questioning yourself: mereka udah sukses gw masih receh… mereka udah tajir gw masih ngitung duit buat nyukupin makan di warteg, mereka udah jalan ke mana-mana sedangkan gw stuck… mereka udah ini-ina-inu sedangkan gw cuma butiran upil kering yang disentil juga mental kemana-mana dan gak guna.

Let me tell you a secret. Kebanyakan orang hanya memperlihatkan sisi yang mereka ingin dunia lihat. Di balik sebuah kesuksesan, 99% ada tangis, duka, jatuh bangun, keringat, kerja keras, malam-malam begadang ngerjain tugas, dan lain-lain, dan lain-lain. Di balik sebuah kebahagiaan dan hidup yang tampaknya senang-senang saja, ada sebuah kamar bernama ‘What I Have Done To Proceed To This Stage’. Kamar ini berisi kegagalan, perjuangan melawan dunia dan diri sendiri (lebih banyak perjuangan melawan diri sendiri), kegalauan, keraguan atas keputusan yang sudah diambil, kegamangan karena tempat berpijak yang seperti pasir hisap, kebosanan, pelajaran berharga yang diperoleh dengan pahit, kegagalan, kegagalan, kegagalan, dan penerimaan diri.

Dan percaya deh, suatu saat lo akan mengalami hal itu juga. Mungkin sekarang, lo sedang berada di kamar ‘The Struggling Room’ atau ‘Who I Am, Really?’. Nggak apa-apa. Nanti, entah berapa bulan atau tahun lagi ketika lo mengunci pintu-pintu itu, mengantungi kuncinya, dan membawa pelajaran-pelajaran yang lo dapatkan, lo akan nyengir, tersenyum lebar, tertawa keras seraya berkata: Hey, been there, done that, got the t-shirt that says: I am alive and kicking and happy, bitches!

But for now, just enjoy whatever comes to you. Boleh kok ngeluh asal nggak overdosis. Boleh kok nangis malem-malem asal nggak setiap malam. Boleh kok ngadu ke Tuhan kalo udah nggak kuat (sangat dianjurkan malah). Yang penting, jangan putus asa karena lo nggak akan tau pelajaran keren apa yang bakalan lo kantungi.

Yang jelas, usia dua puluhan itu memang ajang menempa mental dan skill, sih. Cari tau apa yang lo suka kerjakan, dan perdalam hobi itu. Itu yang namanya passion. Jadi, bukan mendadak ada bola lampu pijar di kepala lo yang nyala dan suara, “tring! passion gw adalah programmer.” No. It doesn’t work that way. Passion itu akan ada dan hadir ketika lo sudah mengerjakan sesuatu, dan menekuninya, dan ternyata, lo suka.

Lo iri sama teman sebaya yang kelihatannya udah sukses? Gak apa-apa. Itu normal dan diperbolehkan. Asalkan lo bisa ubah energi dari rasa iri jadi motivasi, bukan dengki yang berubah jadi benci karena hidup orang itu lebih oke dari lo. Kalo kayak gini, sih, sampe kapan pun lo nggak akan jadi orang sukses.

Sekali lagi deh gue tulis: Olah rasa iri menjadi motivasi.

Dulu, gw bilang gini ke diri gw: Kalo dia bisa, gw harus lebih jago. Bukan untuk buktiin ke orang itu, tapi pembuktian ke diri sendiri, that I can do this shit!!

So I think it’s perfectly fine if you haven’t found what you’re looking for in your twenties. Sooner or later it will come for you.

Good luck and have a great day. Don’t forget to smile.

Banjarbaru, 08 Oktober 2015 14:35 WITA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *