Mencari Kesempurnaan

looking for perfection

Perfection. Kesempurnaan. Satu kata yang membuat semua orang jungkir balik. Ingin perfect dalam nilai sekolah, nilai kuliah, dalam kerjaan, penampilan, dan sebagainya. Walaupun yang terjadi adalah, kita sendiri yang menentukan seberapa perfect perfection itu. Sempurna di mata kita, tentunya beda sempurna di mata orang lain.

Sebagai contoh, gw punya teman. Dia bukan berasal dari keluarga kaya. Dia sering kekurangan berbagai macam kebutuhan. Pada satu titik dalam hidupnya, dia cuma bisa makan mie instan selama sebulan penuh. Dia juga nggak punya handphone yang sedang ngehits waktu itu. Nonton di XXI? Yah, tiga bulan sekali juga udah seneng. Pacar? Oh tentunya dia menjomlo. Bahkan, dia pernah tidur di kasur tipis hasil kredit. Bayarnya lima belas ribu sehari ke tukang kredit keliling.

Bagi orang luar yang nggak kenal teman gw ini, kehidupan dia sangat mengenaskan. Bayangkan, mie instan yang isinya karbo, dia tambahkan nasi putih yang adalah karbo juga, dengan alasan: biar kenyang. Sementara teman-temannya sibuk membicarakan film terbaru dan fashion termutakhir serta gadget yang kamera belakangnya udah canggih, teman gw tetap seloooow ngangkat-ngangkat batu bata, semen, dan sejenisnya.

Nggak ada yang salah dengan temannya teman gw, yang menilai kehidupan yang sempurna adalah ketika dia up to date dengan film – gadget – gaya – gaul dan kopi mahal. Nggak ada yang salah juga dengan teman gw yang sehari-hari harus jadi kuli bangunan dan tidur di kasur tipis hasil kredit. Dia tetap tertawa-tawa bahagia ketika ngerumpi dengan kuli-kuli bangunan berkaos singlet yang terkadang bau asem dan hobi ngutang. Dia nggak merasa kehilangan ataupun minder karena belum mampu membeli barang-barang yang saat itu terasa tak terjangkau.

Mereka tetap berteman tanpa saling iri. Temannya teman gw salut sama teman gw mampu bahagia dengan kehidupan sempurna versinya saat itu, dan teman gw juga nggak merasa silau dengan segala kekayaan sempurna milik temannya.

Justru orang-orang lain yang sering membandingkan dengan memberi label bahwa kehidupan yang sempurna itu harus begini begina beginu. Mereka terkadang lupa, rasa bahagia nggak melulu datang dari materi. Mungkin mereka nggak sadar, bahwa teman gw yang hidupnya dipandang sebelah mata, nggak merasa ada masalah dengan makan mie instan, nggak minum kopi mahal, nggak bisa jalan-jalan. Dia tetap merasa happy. Nggak merasa kekurangan.

Sering kali kita menilai individu tertentu, mungkin teman, mungkin public figure, dengan kehidupan ‘sempurna’ nya itu. Kita menginginkan apa yang mereka punya sampai melupakan apa yang kita punya. Padahal, belum tentu apa yang mereka punya cocok dengan apa yang kita butuhkan. Instead of envious what other have, why don’t we create our own version of perfection without the venom of jealousy?

Sebenarnya, versi sempurna teman gw ada di satu kata: cukup. Dia merasa cukup dengan apa yang dia punya. Dia merasa cukup bisa makan kenyang, bisa tertawa senang, bisa tidur nyenyak. Bahkan, ketika kehidupan memberinya cukup rezeki dan dia mampu jajan kopi mahal, makan di restoran dan nggak perlu menyantap mie instan ditambah nasi, pandangannya tetap sama. Dia, bagaimanapun keadaan ekonominya, merasa cukup. Karena dia sadar, mengejar ‘sempurna’ versi utopis nggak akan ada habisnya. Yang ada malah capek dan merasa nggak puas dengan hidup. Nggak enak, kan?

Temen gw, yang dulu tidur di kasur tipis hasil ngutang namun sekarang udah bisa tidur di kasur empuk hasil nggak ngutang, sedang menikmati iced chocolate cappuccino blended sempurna versinya. Dari dulu dia menyukai cappucino. Sambil memejamkan mata, temen gw menyesap iced chocolate cappucino blended yang sengaja dia inginkan, meresapi rasa lembutnya, sambil mengingat-ingat, betapa kehidupan itu lucu. When you feel content, anything you have, let it be expensive or cheap, let it be branded or just another ordinary brand, you’re still you. You don’t let the value of your possesions determined who you are. You don’t see others who are less fortunate than you with disgust look. You appreciate them as humans. You don’t feel you are the ruler of everything. You’re just grateful.

Sesederhana itu. Merasa bersyukur atas kesempurnaan versi kita masing-masing. Sesempurna angin semilir yang berembus di sela-sela daun bambu di siang yang terik. Sesempurna senyum yang terukir ketika mengingat binar mata mamahnya yang berkata, “I’m proud to have you as my son.” The iced chocolate cappuccino blended is just perfect. Not too sweet, not too strong. He loves the smell. It’s perfect.

His life may not filled with ultra branded stuff or jet set life style or the latest tech on his gadgets and super-luxurious suite when he’s on holiday. He’s okay with that. He doesn’t mind. He has what he needs and that’s all the matters. He feels content. He feels the perfection. He loves his iced chocolate cappuccino blended. His life, with all the limitations, is perfect.

His name is Muhammad Anjang Pamukti and he is grateful.

Hotel Sari Pan Pacific Jakarta, 13 Januari 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *