Tentang Aku Terhadapmu

aku terhadapmu

Sebut saja aku egois, karena tidak ingin kau dicintai siapa-siapa selain keluargamu, aku dan Tuhan.

Sebut saja aku pecundang, karena selalu takut kau hilang ditelan perpisahan.

Sebut saja aku pembohong, sebab aku terlalu lugu menertawai ingkar dan dusta dalam permainan kata baik-baik saja.

Ini, tentang aku terhadapmu, mungkin kau menyepelekannya. Terserah saja.

Kedua mata ini selalu memperhatikan gerak-gerikmu bahkan lebih tajam dari guratan waktu.

Kedua telinga ini selalu lebih setia menjadi pendengar daripada mereka yang seolah menjadi yang peduli atas keluh kesahmu.

Kedua tangan ini selalu menggenggammu lebih erat agar kau aman ketika ayah dan ibumu mulai menanak cemas.

Kedua kaki ini selalu tak segan duduk bersila di atas sajadah dan melangkah agar tubuhmu tiba dengan selamat pada tujuanmu.

Dada ini jauh lebih hangat dari mantel mahal yang bahkan nyalinya terlalu takut tergores udara dingin.

Satu bibir ini bahkan lebih semangat dari jarum jam yang melaju menentukan arah takdir yang kapan saja mengancammu, sebab ia tak kenal lelah merapal do’a untuk senyum termanismu, dan melahirkan tenang di atas keningmu.

Dan, air mata ini selalu menjadi wali semua amin untuk angan dan ingin yang kau harapkan terwujud.

*******

Jika ada orang yang mencintaimu tanpa memedulikan kehendak semesta dan dirinya sendiri, kau boleh menyebut namaku!

Aku ingin mencintaimu, melewati batas yang telah ditetapkan waktu.

Jakarta, 18 Desember 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *