Tujuh Baris Dalam Diam yang Baik Milik Seseorang

Silent Night

Dalam diam yang baik, ada seseorang yang tersenyum getir menahan debar jantungnya agar tidak gegabah, sebab rindu memporakporandakan harinya yang seharusnya berlangsung menyenangkan. Ia berharap waktu berjalan cepat, kecuali saat menggenggam tanganmu.

Dalam diam yang baik, ada seseorang yang menjaga irama langkahnya agar tak menyerah memahamimu, memperbaikimu, dan menguatkanmu sambil berharap tak pernah dihampiri keinginan untuk menyerah.

Dalam diam yang baik, ada seseorang yang membayangkan hidup dalam satu atap bersamamu. Bangun ketika kau masih sibuk menikmati mimpi, lalu ia bergegas mandi, menyiapkan sarapan, dan mengecup keningmu dengan hati-hati agar kau terjaga dengan bibir tersenyum.

Dalam diam yang baik, ada seseorang yang tak kenal lelah memantaskan diri agar kau tak malu bersanding di sampingnya, pula supaya kedua orang tuamu percaya menitipkan hidupmu dengannya. Pagi hingga sore hari ia habiskan untuk mencari alat tukar kebutuhan. Malamnya telah ia tetapkan untuk menghadap Tuhan.

Dalam diam yang baik, ada seseorang yang bersahabat baik sejadah. Ia duduk tenang dan menyerahkan apa yang ia tidak punya, memintal doa beserta amin dalam luruh air matanya yang luhur hingga subuh tiba.

Dalam diam yang baik, ada seseorang yang berharap besar ialah satu-satunya orang yang menjadi pemilik hatimu, selamanya.

Dalam diam yang baik, seseorang itu memiliki keinginan sederhana; selalu membuatmu bahagia karena menemukan separuh dirinya dalam dirimu.

Jakarta, 02 Februari 2016 in a silent night.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *