YOU DESERVE TO BE HAPPY!!

Deserving

Gerah gak sih, setiap kali buka timeline sosial media, selalu ada aja hawa negatif menguar seperti bau ketek abang ojek yang rela nggak mandi tiga hari dan gak pake deodorant seminggu karena mereka anggap itu adalah cara mendapatkan pelanggan lebih banyak?

Gerah gak sih kalo setiap kali buka timeline, adaaaaaaaa aja yang ngeluh tentang hidupnya yang gak sempurna, keluarganya yang nggak pernah damai, percintaannya yang selalu gagal, uang jajannya yang selalu kurang, kerjaannya yang nggak sesuai dengan apa yang dia mau, bosnya yang lebih kejam dari ibu tiri Upik Abu, keteknya yang selalu bau… *bentar, kenapa gw bahas bau ketek mulu, ya…*

Now I don’t wanna be a motivator here, I just want to say, segala macam keluhan yang beredar baik dari diri elo, maupun dari orang-orang di sekitar elo, nggak akan membuat segala sesuatu lebih baik.

Let’s say, elo bete banget karena hari ini cuacanya sangat panas. Elo gak dapet angkot karena setiap angkot penuh sementara elo udah nunggu berpuluh-puluh menit lamanya di pinggir jalan yang puaannasnya kayak ngeliat mantan pamer pacar barunya yang lebih cakep dari elo. Pas ada ojek, eh ada orang lain yang loncat dulu ke pangkuan abang ojek dan mereka pergi menyongsong matahari senja, meninggalkan hadiah berupa debu-debu intan di wajah elo. Dandanan elo yang tadinya kece, makin lama makin gak berbentuk karena udah kecampur sama keringet dan debu dan asep knalpot segala macam kendaraaan. Seakan belum cukup, elo mendadak keingetan sama video absurd Syahrini yang, “I feel freee~~~”

Tambah bete kan, lo?? Udah gak dapet angkot, mau naik ojek malah dicurangi sama orang lain, kepanasan kena debu dan keringetan, ditambah bonus flashback video Instagram Syahrini yang bikin sirik dan empet.

Nah, kalo kasusnya kayak gini, boleh gak ngeluh? YA BOLEH, LAH. Gile aja kalo udah kayak gitu gak boleh misuh-misuh tukang ojek yang tak berperikeadilan karena memutuskan mengangkut orang lain ketimbang diri elo.

Mengeluh itu manusiawi banget, kok. Wajib malah.

Yang jadi masalah adalah, mengeluh terus menerus, sepanjang hari setiap waktu gak peduli musim panas, musim dingin, musim salju, maupun musim duren.

Nah, apa gak capek hati? Yang dengerin keluhan elo aja capek dan kepengin nampol, apalagi elo sendiri sebagai pelakunya?

Gw termasuk orang yang jarang ngeluh. Selain emang woles dan cuek dari sananya, gw juga udah tobat. (ini bukan humble pak, gw emang owsom, kok.*plaakk!*)

Gw ngeluh kalo lagi kumat aja. #eeeeaaaaaa

Karena gw tau, ngeluh melulu nggak menyelesaikan masalah.
Karena gw tau, ngeluh melulu cuma kerjaan orang lemah.
Karena gw tau, ngeluh melulu malah menambah beban di hati.
Karena gw tau, ngeluh melulu akan berujung pada sirik pada nasib orang lain yang lebih beruntung ketimbang gw.
Karena gw tau, ngeluh melulu cuma akan bikin energi berkurang, bikin mood tambah drop, dan bikin rezeki menjauh.

Ya iya lah, gimana rezeki nggak tambah jauh kalo kerjaan gw cuma ngeluh doang. Yang lain udah pada lomba pergi ke bulan, gw masih berkutat dengan keluhan gw yang gak kelar-kelar. Enak? Nggak. Asik? Nggak. Bikin capek hati? Iya banget.

Gw inget pernah dikasih tau gini:

Sebenarnya setiap orang bisa berbahagia dengan cara mereka masing-masing. Sebenarnya setiap orang yang berbahagia adalah orang-orang yang bergaul sama orang yang kadar energi negatifnya rendah. Masuk akal, sih.

Coba, deh, kalo misalnya geng lo adalah geng yang kerjaannya ketawa-ketiwi tapi bukan ngetawain kesialan orang lain, bukan ngetawain fisik orang lain, bukan ngetawain ketidakberuntungan orang lain. Elo bergaul sama geng yang suka ngobrolin solusi ketimbang ngegosip dan “nyinyirin” orang. Elo bergaul sama orang-orang yang lebih memikirkan di masa depan mau jalan-jalan ke mana ketimbang ngomongin sumber dana orang yang kerjaannya jalan-jalan melulu yang berujung pada suudzon darimana orang itu dapet duit. Elo bergaul sama orang-orang yang kalo ada masalah mendingan diselesaikan sendiri, di kalangan internal doang, ketimbang ngeluh-ngeluh gak jelas di sosial media just because kepengin dapet simpati. Elo bergaul sama orang-orang yang memilih untuk hidup realistis positif ketimbang orang yang skeptis-sinis-negatif.

Apakah otomatis elo jadi lebih bahagia? Pasti.

Pernah denger ungkapan, birds of the same feather flock together? Nah, begitu juga dengan pergaulan.

Lihat lima orang terdekat elo, mereka adalah cerminan hidup elo sekarang dan di masa depan. Maksudnya gini. Misal, elo punya lima teman dekat yang pekerja keras, yang nggak hobi ngeluh, yang suka olah raga, yang kompetitif, yang saling support, yang ada buat elo ketika elo ada masalah, yang rasa empatinya besar, yang suka ikut kegiatan sosial, yang punya proyeksi masa depan, yang lebih suka jalan-jalan ketimbang ngegosipin orang, yang asik diajak ketawa-ketiwi, yang nggak mendadak nongol kalo elo lagi tajir tapi ilang kek ninja kalo elo lagi susah, yang tetap jadi teman elo walau elo rada alay, yang memotivasi elo untuk jadi orang yang lebih baik. That’s who you are in the now and in the future. You see yourself in your best buddies. Kalian saling memengaruhi. Birds of the same feather flock together, remember?

Kalau elo ngerasa hidup elo lebih banyak susahnya, lebih banyak sedihnya, lebih banyak ngeluhnya, lebih banyak betenya, lebih banyak nggak bahagianya… Tandanya elo harus mulai bertanya, menelaah, dan mengamati: apakah elo juga bergaul dengan orang-orang yang punya masalah yang sama? Orang-orang yang memang kerjaannya ngeluh doang ketimbang nyari solusi? Orang-orang yang bukannya bikin elo tambah seneng tapi malah bikin elo tertekan karena kerjaannya ngomel dan semua hal salah di mata mereka?

Apakah elo ngerasa dengan bergaul sama mereka, maka elo otomatis bertambah keren sekian persen karena menurut elo, mereka-mereka ini “kritis”?

Kritis itu nggak sama dengan sinis dan skeptis.

Orang-orang kritis adalah orang-orang yang cerdas yang mempertanyakan hal-hal yang sepatutnya dipertanyakan, yang bisa memberikan kritik sekaligus solusi dari sebuah masalah, yang nggak melulu memandang hidup dari sisi negatif. Orang-orang kritis bukan orang-orang yang negatif dan sinis. Beda. Banget. Mbak. Mas.

Everybody deserves to be happy. You think there’s something wrong about your life? Fix it. Change it. Whining about it won’t do you any good.

And you know what? You, don’t need anybody to make you happy. Instead of depending on someone else, why don’t you create your own happiness? It could be as simple as realising you’re still breathing, that you’re given another day to live, that you’re given another chance to do something good for yourself or for people around you.

Hal penting lainnya, lepaskan diri lo dari pengaruh negatif orang-orang di sekitar elo. Jangan takut dikatain cemen hanya karena elo mau cari suasana baru, suasana yang lebih segar, suasana yang jauh dari hawa negatif. Toh, bukan mereka yang ngasih elo hidup. Bukan mereka yang menentukan apa yang harus elo lakukan dalam hidup lo.

Timeline elo nggak menyenangkan karena banyak yang kerjaannya marah-marah, ngomel, nyela, nge-bully dan hal negatif lainnya? Sudah saatnya elo ganti following. Kalo ada temen yang ngamuk karena elo unfollow, then it only means mereka memandang pertemanan kalian dari follow-unfollow doang. Like, seriously? You wanna be friends with this kind of people? Toh kalo mereka emang beneran temen, mereka nggak akan mempermasalahkan hal sesepele follow-unfollow. Mereka nggak akan ngamuk dan sakit hari dan ngata-ngatain elo baik secara langsung maupun nomention jika diunfollow. Masih ada whatsapp/bbm/sms/telpon/line/kakaotalk atau yang lebih sakti: ketemuan secara langsung dan ketawa-ketiwi. Kualitas pertemanan nggak pernah dilihat apakah kalian saling follow atau nggak, kok. Serius.

Life should be lived as simple as possible.

Lingkaran pertemanan udah nggak sehat? Do not be afraid to start a new circle of friends. People who would make you better than you are now. People who see your potential and help you achieve your best. People who are not weighing you down. People who perceived you as a human, not as an object. People who would accept your flaws instead of mocking you and shattering your self-esteem. People who would grow together with you, not bringing you down because they feel miserable about themselves.

You. Deserve. To. Be. Happy.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *